Kami yang hidup di rumah paman
Kami yang hidup di rumah bibi
Kami yang hidup di rumah nenek
Kami yang hidup berpindah-pindah kota bahkan provinsi
Kami yang hidup tanpa kedua orangtua
Aku dan adik perempuanku memang ditakdirkan harus tegar
Tegar menghadapi gempuran derasnya kehidupan ini
Tegar untuk menentukan arah hidup kami sendiri
Tegar mengambil segala keputusan yang akan kami tempuh
Aku masih 4 tahun
dan adikku genap 2 tahun saat itu
Nakal itulah Aku
Perenung dan murung itulah aku
periang dan ceria itulah adikku
Ranking 1 di sekolah dasar itulah Aku
terkadang Ranking 2 atau 3 itulah aku
Pagi-pagi benar kukayuh sepedaku
hasil dari menabung sepeda kudapat
kuketuk rumah seorang Haji di pengkolan
"Assalamu alaikum" sapaku
"Wa'alaikum salam" saut bu haji
sesegera dibukakan pintu
mau ambil berapa termos dik?
satu dulu bu, besok kalau laris saya ambil 2 termos. jawabku
jangan lupa ya nanti kalau laku semua setornya 700 rupiah ya? kata bu haji
baik bu, semoga laku semua. besok setornya sekalian pagi ya bu? sautku
iya. jawab bu haji
kembali kukayuh sepedaku secepat kumampu
sekarang sudah jam setengah 6 pagi
harus segera bergegas untuk tidak datang terlambat di sekolah
apalagi ini hari senin saatnya untuk upacara bendera
bergegas aku mandi dan berpakaian
tas, sepatu dan termos es semua kutenteng di kedua tanganku
adikku sudah berangkat duluan beserta temannya
sebelum sampai di halaman sekolah
aku berhenti di belakang sekolah sejenak untuk memakai sepatu
Aku masih ingat betul merk sepatuku itu "Kubota"
dan menyimpan termos es daganganku tuk sementara waktu
upacara sudah selesai
saatnya meletakkan termos esku di depan kelasku
tak lupa pula kusandingkan kaleng tempat uang
siapa tahu ada yang mau beli sehabis pelajaran olahraga
aku pun masuk kelas tuk belajar dengan sungguh-sungguh
Teng...teng... teng
bel sekolah berbunyi
saatnya pulang sekolah
aku pun segera pulang tuk berganti pakaian
kulanjutkan jualanku kembali ke desa-desa lain
sampai di penghujung waktu tiba
dan aku pun menghitung perolehanku hari ini
alhamdulillah aku mendapatkan uang 1000 rupiah
berarti laba 300 rupiah sisa setoranku besok
kutabungkan di pillar bambu rumah
Bulan puasa telah genap 27 hari dan lebaran siap menjemput
Adikku menangis sedih
Aku sudah tahu apa yang ada di hati adikku
sepi... karena lagi-lagi melewati lebaran tanpa kedua orang tua
Bapakku yang bekerja di Jepang sebagai Pelaut
Dua tahun sekali bapakku pulang
dan Ibuku yang sudah punya keluarga barunya di Jakarta
kuhibur adikku: sudah jangan menangis, besok kakak belikan baju baru yang warna pink mau?
mau-mau Kak. jawab adikku sembari senyum
kuhibur adikku dan selalu kukatakan kepada dia
bahwa "kita ini manusia spesial"
Tuhan memilih kita dari ratusan, ribuan atau bahkan jutaan
Untuk hidup secara mandiri
kita harus optimis dan selalu bekerja untuk menggapai mimpi.
Kami yang hidup di rumah bibi
Kami yang hidup di rumah nenek
Kami yang hidup berpindah-pindah kota bahkan provinsi
Kami yang hidup tanpa kedua orangtua
Aku dan adik perempuanku memang ditakdirkan harus tegar
Tegar menghadapi gempuran derasnya kehidupan ini
Tegar untuk menentukan arah hidup kami sendiri
Tegar mengambil segala keputusan yang akan kami tempuh
Aku masih 4 tahun
dan adikku genap 2 tahun saat itu
Nakal itulah Aku
Perenung dan murung itulah aku
periang dan ceria itulah adikku
Ranking 1 di sekolah dasar itulah Aku
terkadang Ranking 2 atau 3 itulah aku
Pagi-pagi benar kukayuh sepedaku
hasil dari menabung sepeda kudapat
kuketuk rumah seorang Haji di pengkolan
"Assalamu alaikum" sapaku
"Wa'alaikum salam" saut bu haji
sesegera dibukakan pintu
mau ambil berapa termos dik?
satu dulu bu, besok kalau laris saya ambil 2 termos. jawabku
jangan lupa ya nanti kalau laku semua setornya 700 rupiah ya? kata bu haji
baik bu, semoga laku semua. besok setornya sekalian pagi ya bu? sautku
iya. jawab bu haji
kembali kukayuh sepedaku secepat kumampu
sekarang sudah jam setengah 6 pagi
harus segera bergegas untuk tidak datang terlambat di sekolah
apalagi ini hari senin saatnya untuk upacara bendera
bergegas aku mandi dan berpakaian
tas, sepatu dan termos es semua kutenteng di kedua tanganku
adikku sudah berangkat duluan beserta temannya
sebelum sampai di halaman sekolah
aku berhenti di belakang sekolah sejenak untuk memakai sepatu
Aku masih ingat betul merk sepatuku itu "Kubota"
dan menyimpan termos es daganganku tuk sementara waktu
upacara sudah selesai
saatnya meletakkan termos esku di depan kelasku
tak lupa pula kusandingkan kaleng tempat uang
siapa tahu ada yang mau beli sehabis pelajaran olahraga
aku pun masuk kelas tuk belajar dengan sungguh-sungguh
Teng...teng... teng
bel sekolah berbunyi
saatnya pulang sekolah
aku pun segera pulang tuk berganti pakaian
kulanjutkan jualanku kembali ke desa-desa lain
sampai di penghujung waktu tiba
dan aku pun menghitung perolehanku hari ini
alhamdulillah aku mendapatkan uang 1000 rupiah
berarti laba 300 rupiah sisa setoranku besok
kutabungkan di pillar bambu rumah
Bulan puasa telah genap 27 hari dan lebaran siap menjemput
Adikku menangis sedih
Aku sudah tahu apa yang ada di hati adikku
sepi... karena lagi-lagi melewati lebaran tanpa kedua orang tua
Bapakku yang bekerja di Jepang sebagai Pelaut
Dua tahun sekali bapakku pulang
dan Ibuku yang sudah punya keluarga barunya di Jakarta
kuhibur adikku: sudah jangan menangis, besok kakak belikan baju baru yang warna pink mau?
mau-mau Kak. jawab adikku sembari senyum
kuhibur adikku dan selalu kukatakan kepada dia
bahwa "kita ini manusia spesial"
Tuhan memilih kita dari ratusan, ribuan atau bahkan jutaan
Untuk hidup secara mandiri
kita harus optimis dan selalu bekerja untuk menggapai mimpi.

Mengharukan mas. keep bloging..
ReplyDeleteterima kasih mas Jamaludin, selalu berkarya
ReplyDelete